Cara Menulis Feature dengan baik dan benar wajib dimiliki wartawan atau penulis konten teks (content writer), khususnya wartawan media cetak. Pasalnya, media cetak seperti koran atau majalah saat ini “harus” mengedepankan tulisan mendalam dan menarik, tidak mengandalkan berita straight news yang sudah jadi menu harian media online dan media sosial.
Secara ringkas, cara menulis feature pada dasarnya sama dengan cara menulis cerita pendek (cerpen) dalam karya sastra (fiksi). Hanya saja, cerita dalam feature benar-benar terjadi (faktual), bukan hasil imajinasi atau khayalan. Bagian terpenting adalah judul dan teras (feature lead) atau bagian awal tulisan.
Berikut ini teknik atau tips cara menulis feature. Feature biasanya ada di tabloid dan majalah yang tidak fokus ke berita straight news. Feature lebih bertujuan menghibur ketimbang memberikan informasi.
Feature juga lebih detail dan mendalam dibandingkan uraian fakta dalam sebuah berita langsung.
Pengertian Feature
Feature adalah jenis tulisan jurnalistik berisi fakta yang dituturkan dengan gaya bercerita layaknya cerita pendek (cerpen). Ia berbeda dengan berita (news) dan artikel opini (views).
Meski tetap disarankan menggunakan bahasa jurnalistik yang lugas dan ringkas, penulisan bisa menggunakan kata-kata indah, berona, colorful words, layaknya syair puisi guna menambah daya tarik.
Menurut BBC, feature adalah tulisan yang lebih panjang daripada berita. Fitur datang dalam berbagai jenis dan banyak digunakan di majalah, surat kabar, dan media online.
Sebuah feature sering kali meliput suatu masalah secara lebih mendalam daripada yang dilakukan oleh sebuah berita; atau mungkin melihat cerita yang sedang berlangsung dari sudut yang berbeda.
Sebuah feature dapat mengabaikan struktur piramida terbalik untuk meliput kisah human interest dengan menggunakan lebih banyak detail dan emosi.
Berbeda dengan berita yang mengedepankan WHAT, WHO, WHEN, dan WHERE, sebuah feature lebih mengedepankan unsur HOW dan WHY dalam unsur berita 5W1H.
Penulisan feature adalah bentuk penulisan sastra dan diakui secara kritis dalam jurnalisme. Ini melibatkan penulisan artikel unggulan tentang topik yang sedang tren, kepribadian hebat, dan masalah yang relevan.
Bentuk tulisan ini umumnya lebih panjang dari berita tertentu dan sifatnya lebih informatif. Tulisan feature digunakan secara luas di majalah, surat kabar, dan media online. Ini mencakup cerita dengan sangat mendalam dan dimaksudkan untuk memikat perhatian penonton pada penyebab tertentu dengan melihat cerita dari sudut yang berbeda.
Jenis-Jenis Feature
Jenis-jenis feature yang dikenal luas antara lain sebagai berikut:
1. Feature Petunjuk Praktis (How-To/Tips)
Ini jenis feature terpololer yang isinya memberikan panduan, kiat, atau cara melakukan sesuatu yang dikemas dengan narasi bercerita. Misalnya, cara mengisi formulir pajak, tips mengatasi depreasi, cara mengelola website, dll.
2. Feature Sosok (Profil)
Feature jenis ini juga populer. Isinya menceritakan kisah hidup, perjuangan, atau pencapaian seseorang, sekelompok orang, ataupun lembaga yang menarik dan menginspirasi. Misalnya, profil pengusaha sukses atau politisi.
3. Feature Human Interest
Jenis feature ini mengangkat sisi manusiawi atau peristiwa yang menggugah emosi pembaca (seperti empati, kesedihan, atau kebahagiaan). Biasanya diambil dari sebuah kisah di balik peristiwa besar atau kisah perjuangan sebagaimana di Tempo.
4. Feature Perjalanan (Travelogue)
Jenis feature yang isinya mengulas pengalaman, keunikan, dan suasana suatu lokasi atau destinasi wisata dari sudut pandang penulis.
5. Feature Sejarah (Historis)
Feature sejarah menceritakan kembali peristiwa masa lalu dengan sudut pandang baru, menggali fakta unik, atau mengaitkannya dengan kondisi saat ini.
5. Feature Gaya Hidup (Lifestyle)
Feature yang membahas tren, seni, budaya, fashion, kuliner, atau kebiasaan baru di tengah masyarakat.
6. Feature Ilmiah Populer
Mengemas penemuan, riset, atau fenomena sains yang rumit menjadi tulisan yang ringan, mudah dipahami, dan menarik.
Jenis-Jenis Feature Lainnya
Mengutip Leverage Edu, berikut ini jenis-jenis feature yang dikenal di dunia jurnalisme atau jurnalistik. Menurut The Universal Journalist yang ditulis oleh jurnalis Inggris David Randall dan mahakarya yang diakui secara kritis tentang jurnalisme menguraikan berbagai jenis cerita fitur berikut:
- Sepotong Berwarna: Sebuah cerita yang pada dasarnya mencoba memberi informasi kepada pembaca tentang tema atau subjek tertentu.
- Fly on the Wall: Sebuah cerita yang disusun dan diriwayatkan secara diam-diam dan sebagian besar tanpa izin eksplisit dari subjek.
- Di Balik Layar: Cerita yang mengalihkan fokusnya dari peristiwa utama ke latar belakang dan menceritakan kisah yang menarik.
- In Disguise: Cerita yang diceritakan sementara pendongeng adalah bagian dari acara tersebut.
- Wawancara: Cerita yang berkembang dengan sendirinya seputar pertanyaan yang diajukan kepada responden, yang biasanya berada di tempat yang menonjol.
- Profil: Cerita yang didasarkan pada eksploitasi orang terkemuka tertentu dengan atau tanpa wawancaranya.
- How-To: Cerita yang bergantung pada penelitian dan membantu pembaca dalam memecahkan masalah atau menguraikan skenario.
- Kotak Fakta/Kronologi: Sebuah cerita yang memberikan fakta-fakta sederhana dan sederhana sebagian besar dalam urutan kronologis.
- Backgrounder/ A History of: Sebuah cerita yang memberikan informasi rinci.
- Teks Lengkap: Cerita yang tidak lain adalah kutipan dari buku atau transkrip wawancara.
- Kesaksian: Kisah yang merupakan kisah orang pertama dari seorang individu.
- Analisis: Cerita yang secara ilmiah menganalisis suatu peristiwa.
- Vox Pop/ Expert Roundup: Cerita yang mengumpulkan pendapat dari masyarakat umum dan pemimpin pemikiran tentang suatu subjek.
- Jajak Pendapat: Sebuah cerita yang melakukan penelitian opini dan menyajikan ringkasan umum dari akumulasi opini.
- Ulasan: Cerita yang mengulas sebuah karya seni dan menyajikan opini umum.
Tidak ada format yang ditetapkan untuk penulisan feature. Penulisan feature umumnya melibatkan cerita yang memainkan peran yang sangat penting dalam membangun opini dan menghasut tindakan.
Tulisan feature banyak digunakan untuk tujuan advokasi, generasi pengetahuan, dan meningkatkan kesadaran tentang isu-isu.
Menurut Bruce Itule & Douglas Anderson, News Writing and Reporting for Today’s Media, 3rd. Edition, New York: McGraw-Hill, 1994, sebagaimana dikutip Media Studies, jenis-jenis feature adalah sebagai berikut:
- Profil kepribadian: Profil kepribadian ditulis untuk mendekatkan audiens dengan seseorang di dalam atau di luar berita. Wawancara dan observasi, serta penulisan kreatif, digunakan untuk melukiskan gambaran yang jelas tentang orang tersebut.
- Kisah minat manusia (Human interest stories): Kisah minat manusia ditulis untuk menunjukkan keanehan subjek atau nilai praktis, emosional, atau hiburannya.
- Kisah tren (Trend stories): Kisah tren mengkaji orang, benda, atau organisasi yang berdampak pada masyarakat. Kisah-kisah tren populer karena orang-orang senang membaca atau mendengar tentang mode terbaru.
- Cerita yang mendalam (In-depth stories): Melalui penelitian dan wawancara yang ekstensif, cerita yang mendalam memberikan penjelasan yang mendetail jauh melampaui berita atau fitur berita dasar.
- Latar belakang (Backgrounders): Latar belakang–juga disebut bagian analisis–menambah makna pada isu terkini dalam berita dengan menjelaskannya lebih lanjut. Artikel-artikel ini membuat pembaca selalu up-to-date, menjelaskan bagaimana negara ini, organisasi ini, orang ini bisa berada di tempatnya sekarang.
Cara Menulis Feature
Bagaimana cara menulis feature? Masih menurut Bruce Itule & Douglas Anderson, penulis feature jarang menggunakan bentuk piramida terbalik yang biaa digunakan dalam menulis berita (news).
Sebagai gantinya, mereka mungkin menulis kronologi yang membangun klimaks di bagian akhir, sebuah narasi, artikel orang pertama tentang salah satu pengalaman mereka sendiri atau kombinasi dari semuanya.
Cerita mereka disatukan oleh sebuah utas, dan sering kali berakhir di tempat awal dimulai, dengan satu orang atau peristiwa.
Berikut adalah langkah-langkah yang biasanya diikuti dalam mengatur cerita fitur:
1. Pilih tema
Temanya mirip dengan tesis makalah ilmiah dan memberikan kesatuan dan koherensi pada karya tersebut. Seharusnya tidak terlalu luas atau terlalu sempit.
Beberapa faktor berperan saat memilih tema:
- Apakah ceritanya pernah dibuat sebelumnya?
- Apakah ceritanya menarik bagi penonton?
- Apakah cerita memiliki kekuatan (daya tarik emosional)?
- Apa yang membuat cerita itu layak diberitakan?
- Tema menjawab pertanyaan, “Jadi apa?”
2. Tulis petunjuk yang mengundang audiens ke dalam cerita.
Ringkasan mungkin bukan petunjuk terbaik untuk sebuah fitur. Blok utama dari satu atau dua paragraf sering kali memulai sebuah fitur.
Alih-alih menempatkan unsur-unsur berita dari cerita tersebut sebagai lead, penulis feature menggunakan dua atau tiga paragraf pertama untuk mengatur suasana hati, untuk menggugah pembaca, untuk mengundang mereka masuk.
Kemudian news peg atau signifikansi cerita disediakan pada paragraf ketiga atau keempat, nut graph. Karena menjelaskan alasan penulisan cerita, grafik nut—disebut juga grafik “jadi apa”—merupakan paragraf penting dalam setiap fitur. Grafik kacang harus tinggi dalam cerita. Jangan membuat pembaca menunggu sampai paragraf ke-10 atau ke-11 sebelum memberi tahu mereka tentang apa ceritanya.
Tubuh memberikan informasi penting sambil mendidik, menghibur, dan mengikat audiens secara emosional dengan subjek tersebut. Bagian akhir akan mengakhiri cerita dan kembali ke awal, seringkali dengan kutipan atau klimaks yang mengejutkan. Komponen penting dari isi cerita fitur adalah informasi latar belakang, alur cerita, transisi, dialog, dan suara.
3. Berikan informasi latar belakang yang penting.
Jika sesuai, satu atau dua paragraf latar belakang harus ditempatkan tinggi di dalam cerita agar audiens tetap up to date.
4. Tulis kalimat yang jelas dan ringkas.
Taburkan kutipan langsung, pengamatan, dan latar belakang tambahan di sepanjang cerita. Paragraf dapat ditulis secara kronologis atau dalam urutan kepentingan.
5. Gunakan utas.
Hubungkan bagian awal, isi, dan kesimpulan cerita. Karena sebuah fitur biasanya berjalan lebih lama dari sebuah berita, adalah efektif untuk menjalin benang merah sepanjang cerita, yang menghubungkan lead ke tubuh dan ke kesimpulan. Utas ini bisa berupa satu orang, peristiwa, atau benda, dan biasanya menyoroti tema.
6. Gunakan transisi.
Sambungkan paragraf dengan kata transisi, parafrase, dan kutipan langsung. Transisi sangat penting dalam fitur panjang yang memeriksa beberapa orang atau peristiwa karena ini adalah alat yang digunakan penulis untuk berpindah secara halus dari satu orang atau topik ke topik berikutnya. Transisi membuat pembaca tidak tersentak oleh tulisan.
7. Gunakan dialog jika memungkinkan.
Penulis feature, seperti penulis fiksi, sering menggunakan dialog untuk membuat cerita terus bergerak. Tentu saja, penulis fitur tidak dapat mengarang dialog; mereka mendengarkannya selama proses pelaporan. Dialog yang baik seperti pengamatan yang baik dalam sebuah cerita; itu memberi pembaca gambaran mental yang kuat dan membuat mereka melekat pada tulisan dan pemain kunci cerita.
8. Membangun suara.
Elemen kunci lain yang menyatukan fitur adalah suara, “tanda tangan” atau gaya pribadi masing-masing penulis. Suara adalah kepribadian penulis dan dapat digunakan untuk menyuntikkan warna, nada, dan komentar emosional yang halus ke dalam cerita. Suara harus digunakan secara halus.
Intrusi terang-terangan dari suara khas ke dalam penulisan berita telah disebut jurnalisme gonzo — sebuah tren yang tidak bertanggung jawab, jika menghibur, dalam penulisan kontemporer menurut tradisionalis.
9. Simpulkan dengan kutipan atau bagian lain dari utas.
Sebuah feature dapat berhenti seperti berita atau dapat diakhiri dengan klimaks. Sering kali, sebuah feature berakhir ketika prospek dimulai, dengan satu orang atau peristiwa.
Tulisan Feature yang Menarik
Berikut ulasan ringkas tentang penulisan feature di laman University of Missoury.
Penulis feature yang baik adalah imajinatif, ingin tahu, “usil”, penuh perhatian, tidak konvensional, jenaka, dan biasanya tidak segan-segan “meminjam” ide tulisan yang bagus dari orang lain.
Para penulis feature melakukan pekerjaan yang baik dalam menggali informasi, dan cukup pintar untuk mengubah bahkan data yang membosankan menjadi prosa yang menarik dan terkadang lucu.
Perbedaan feature dengan berita, sebuah berita memberikan informasi tentang suatu peristiwa, ide, atau situasi. Feature melakukan sedikit lebih banyak. Itu juga mungkin:
- Menafsirkan atau menambah kedalaman dan warna pada berita
- Menginstruksikan
- Menghibur.
Feature umumnya lebih panjang daripada berita. Sebuah lead feature harus menarik minat pembaca. Ini adalah “grabber” yang membuat pembaca masuk ke dalam cerita dan membuat mereka terus maju.
Banyak aturan penulisan berita yang juga berlaku untuk penulisan feature: kalimat pendek, kata sederhana, kata pribadi, kata kerja aktif. Tapi, feature story bisa lebih menyenangkan untuk ditulis, karena Anda bisa lebih kreatif.
1. Kalimat Pendek
Untuk khalayak masa kini, berita dengan rata-rata antara 15 dan 20 kata per kalimat mudah dibaca. Kalimat yang lebih panjang dari 30 kata mungkin sulit dipahami.
2. Paragraf Pendek
Pertahankan paragraf tetap pendek. Dan variasikan mereka — dari satu kata hingga lima kalimat rata-rata. Paragraf 100 kata terlihat sangat panjang di kolom surat kabar yang sempit. Editor tidak menyukai mereka. Pembaca juga tidak.
4. Kata-kata yang mudah
Gunakan kata-kata pendek dan sederhana sebagai pengganti kata-kata yang lebih panjang dan banyak suku kata dengan arti yang sama. Ketika kata teknis atau sulit harus digunakan, jelaskan sesederhana mungkin.
5. Kata-kata pribadi
Kata-kata seperti “kamu”, “kami”, nama seseorang, kutipan langsung, dll., membuat naskah feature Anda lebih menarik.
Memang, personalisasi semacam ini lebih sering digunakan dalam berita-berita “feature” ketimbang “hard news”. Tapi itu masih merupakan teknik yang bagus untuk menarik minat pembaca.
6. Kata kerja aktif
Kata kerja tindakan membuat cerita terus bergerak dan menarik pembaca lebih dari kata kerja “menjadi” yang menunjukkan sedikit tindakan. Transisi digunakan untuk menambah, mengilustrasikan, atau memperluas suatu titik.
- Transisi biasanya dimulai dengan kata-kata seperti “dan”, “selanjutnya”, “juga”, “atau”, “tidak”, “selain itu”, “bersama dengan”, dll.
- Transisi menghubungkan sebab dan akibat: “sebagai akibat”, “yang dihasilkan”, “akibatnya”, dll.
- Transisi merujuk kembali: “mereka”, “ini”, “itu”, “sedikit”, “siapa”, “kecuali untuk”, dll.
- Transisi membatasi dan memenuhi syarat: “asalkan”, “tetapi”, “namun”, “seandainya”, “kecuali”, “hanya jika”, dll.
Demikian cara menulis feature lengkap dengan pengertian dan jenis-jenisnya. Tisp bagi pemula: tulis saja, mulai menulis, jangan terikat dengan “teori” yang mungkin membebani. Just write! Ayo, tulis feature dan posting dulu di blog atau website pribadi Anda!





